banner 728x250

Karya Warga Binaan di Bali Fashion Trend 2026

banner 120x600
banner 468x60

Bali, satunasional  – Ajang Bali Fashion Trend (BFT) 2026 yang digelar di Onyx Park Resort, Ubud, Gianyar, Jumat (20/12) malam, menjadi panggung kolaborasi antaraImigrasi dan Pemasyarakatan dengan industri fashion nasional.

Melalui program Beyond Beauty, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bersama Indonesia Fashion Chamber (IFC) menampilkan karya fashion hasil kolaborasi desainer ternama dengan warga binaan dari 24 lembaga pemasyarakatan (lapas)di berbagai daerah.

banner 336x280

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto mengatakan program Beyond Beauty merepresentasikan perubahan pendekatan dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia.

Menurutnya, lapas tidak lagi semata menjadi tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan untuk mempersiapkan warga binaan kembali berperan aktif di masyarakat.

“Kolaborasi ini bukan hanya tentang fashion atau produk, tetapi tentang manusia, harapan, dan masa depan yang lebih baik bagi warga binaan,” kata Agus saat membuka rangkaian Bali Fashion Trend 2026.

Dalam program Beyond Beauty, warga binaan dilibatkan sebagai co-creator dalam proses kreatif industri fashion profesional. Produk hasil pembinaan seperti batik, anyaman, bordir, hingga kerajinan kulit dikembangkan bersama desainer Sofie, Lisa Fitria, dan Irmasari menjadi karya fashion kontemporer yang memiliki nilai estetika dan potensi komersial.

Agus menilai proses kolaborasi tersebut tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri serta identitas positif warga binaan.

“Ketika karya mereka diapresiasi publik dan pasar, di situlah pemulihan harga diri dan kepercayaan diri benar-benar terjadi,” ujarnya.

Karya hasil kolaborasi tersebut juga mulai menarik perhatian pasar internasional. Desainer Sofie mengungkapkan bahwa dalam rangkaian Bali Fashion Trend 2026 pihaknya menerima permintaan awal dari calon pembeli asal Prancis dan Malaysia, yang dinilai menjadi sinyal positif atas daya saing produk hasil pembinaan pemasyarakatan di pasar global.

Salah satu koleksi yang ditampilkan memadukan batik tradisional dengan desain urban modern bergaya streetwear.

Seluruh proses produksinya melibatkan warga binaan dari sejumlah lapas, antara lain di Jambi, Bengkulu, Manado, Malang, Semarang, Pontianak, Sumenep, dan Madiun, dengan total 24 unit lapas berpartisipasi.

Karya-karya tersebut disiapkan melalui pendampingan intensif, mulai dari pengembangan desain hingga pemenuhan standar kualitas produk siap pasar.

Agus juga menyampaikan apresiasi kepada Indonesia Fashion Chamber atas komitmennya membuka ruang kolaborasi lintas sektor.

Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan peran aktif industri fashion dalam mendorong tanggung jawab sosial sekaligus memperkuat ekosistem kreatif nasional.

Program Beyond Beauty, lanjut Agus, sejalan dengan arah reformasi pemasyarakatan serta penerapan nilai-nilai KUHP Baru 2025 yang menekankan pendekatan rehabilitasi dan reintegrasi sosial.

Kolaborasi ini dinilai berpotensi menjadi model integrasi antara pemasyarakatan dan industri kreatif yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Kedepan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan berkomitmen mengembangkan program Beyond Beauty secara berkelanjutan melalui perluasan kerja sama dengan lebih banyak desainer dan merek fashion nasional, penguatan akses pemasaran ke pasar domestik dan internasional, serta peningkatan kapasitas pembinaan di unit pelaksana teknis pemasyarakatan.

“Setiap warga binaan memiliki potensi untuk berubah dan berkontribusi. Tugas negara adalah membuka jalan, memberi kesempatan, dan menumbuhkan kepercayaan,” kata Agus.

Melalui Bali Fashion Trend 2026, kolaborasi pemasyarakatan dan industri fashion ini diharapkan tidak hanya menghasilkan karya kreatif bernilai ekonomi, tetapi juga menguatkan pesan bahwa fashion dapat menjadi medium transformasi sosial yang menjunjung nilai kemanusiaan dan inklusivitas. (Maykal)

banner 336x280