JAKARTA – SATU NASIONAL – COM – Artis sekaligus politisi Ronal Surapradja menilai pemerintah perlu segera beradaptasi dengan perubahan lanskap komunikasi di era digital apabila ingin kembali membangun kepercayaan publik, khususnya di kalangan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Ronal saat menjadi pembicara dalam Executive Breakfast Meeting (EBM) Seri ke-5 yang digelar Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (IKA FIKOM UNPAD), Senin (26/1), di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan.
Dulu mungkin orang tidak mau percaya kepada pemerintah karena komunikasinya tidak baik. Sekarang sudah banyak pembenahan, tapi pemerintah harus mau melakukan komunikasi dua arah dan memangkas jarak dengan rakyat,” ujar Ronal.
Menurut Ronal, mayoritas masyarakat saat ini hidup dalam ekosistem digital yang menuntut pendekatan komunikasi berbeda dari pola lama yang cenderung satu arah. Ia mengingatkan agar pejabat publik tidak terjebak pada cara komunikasi generasi sebelumnya.
Sekarang janji temu itu akrab dengan digital. Cara komunikasinya harus berbeda. Kekhawatirannya, mereka yang masih generasi baby boomer atau Gen X tidak terlalu bisa menangkap perubahan,” katanya.
Ronal menegaskan bahwa generasi muda dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi penentu arah kebijakan nasional. Oleh sebab itu, pemerintah dinilai perlu mulai mempersiapkan proses transisi kepemimpinan sekaligus pola komunikasi yang relevan dengan zaman.
“Dalam beberapa tahun ke depan, merekalah yang akan menjadi penentu kebijakan. Kami yang lebih tua punya beban untuk memberikan tongkat estafet, karena mereka sudah ditunggu oleh zamannya,” ujarnya.
Selain itu, Ronal turut menyoroti kondisi demokrasi di Indonesia yang menurutnya masih belum sepenuhnya terbuka. Ia menyebut demokrasi di Tanah Air masih berada dalam fase rapuh dan rentan dibatasi oleh kekuasaan.
Faktanya, demokrasi di Indonesia masih bisa disebut demokrasi semu. Negara kita masih muda secara demokrasi. Bahkan di negara demokrasi tua seperti Amerika Serikat pun masih ada persekusi,” katanya.
Ronal menilai ruang demokrasi berpotensi menyempit ketika suara minoritas bertentangan dengan mayoritas yang memegang kekuasaan.
“Kalau sudah bertentangan dengan suara mayoritas yang punya kekuasaan, demokrasi bisa dimatikan atau dikondisikan supaya tidak mengganggu,” ujarnya.
EBM Seri ke-5 mengusung tema “Riah-Riuh Komunikasi” yang terinspirasi dari buku terbaru pengamat komunikasi politik Hendri Satrio. Forum tersebut membahas peran komunikasi publik dalam tata kelola pemerintahan, proses pengambilan kebijakan, serta pengelolaan persepsi dan kepercayaan publik di era keterbukaan informasi.
Selain Ronal Surapradja, kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo sebagai keynote speaker, Hendri Satrio, Rocky Gerung, Sabrang MDP (Noe Letto), dan Maman Suherman.



















